Mereka mempresentasikan hasil penelitian tentang biji mahoni yang menghasilkan minyak sebagai pengganti minyak tanah. Selanjutnya, ampas biji dapat dimanfaatkan sebagai anti nyamuk yang efektif. Terkait hal itu ketika dihubungi Radio Edukasi Senin (20/4) Muhammad Kautsar menjelaskan tingginya harga minyak tanah menjadi latar belakang penelitian tersebut.
“Dari hasil eksperimen dengan keakuratan data 95% minyak biji mahoni dapat menjadi pengganti minyak tanah, karena menghasilkan api yang mampu bertahan lebih lama. Kelemahannya, untuk mendidihkan air dibutuhkan waktu lebih lama,” jelasnya.
Muhammad Kautsar dan kawan-kawan berharap, pemerintah menindaklanjuti hasil penelitian itu. “Kalau bisa dipatenkan, agar tidak diambilalih orang luar negeri,” ujarnya.
Sementara dalam ajang tersebut Indonesia berhasil meraih juara umum dengan perolehan 7 medali emas, 1 medali perak, dan 3 medali perunggu, dengan mempresentasikan 12 karya ilmiah.
Meski sempat meraih medali emas dalam taraf nasional maupun internasional, namun kemudahan akses pendidikan belum berpihak kepada Muhammad Kautsar serta teman-temannya. Ia bersama ketiga temannya, gagal masuk UGM melalui jalur siswa berprestasi. “Kita juga heran, UGM tidak memberikan alasan jelas. Kita berempat tidak bisa lolos melalui jalur siswa berprestasi,” terangnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Drs. Syamsuri MM berjanji akan merekomendasikan keempat siswa tersebut untuk bisa diterima Perguruan Tinggi sesuai keinginan dan keahlian mereka. “Sayang sekali anak berbakat seperti mereka harus kuliah di luar negeri, ujung-ujungnya nanti diambil orang sana, maka kita berjuang untuk memfasilitasinya” pungkasnya.(ton)
Balai Pengembangan Media Radio (BPMR) sebagai unit pelaksana teknis 



