Pemerintah Kota Yogyakarta bersama TNI dan sejumlah elemen masyarakat, Senin (1/3) menyelenggarakan upacara peringatan Serangan Umum 1 Maret di kawasan nol kilometer, atau di Monument Serangan Umum 1 Maret. Peringatan itu diawali dengan serangan bersepeda dari empat penjuru Kota Yogyakarta, yang merupakan gabungan dari klub sepeda siswa SMP dan SMA se-Kota Yogyakarta. Kegiatan ini sekaligus sebagai dukungan terhadap program SegoSegawe Pemerintah Kota Yogyakarta.
Dalam kesempatan itu Walikota Yogyakarta Herry Zudianto mengungkapkan, peristiwa Serangan Umum Satu Maret hampir tenggelam di tengah masyarakat, karena itu pihaknya ingin mengingatkan kembali. “Dulu hanya anggota WK III yang merayakan, tapi kita ambil alih (pemerintah kota-red) untuk dirayakan secara resmi”, ujarnya.
Selain itu, Yogyakarta mendapat predikat sebagai kota perjuangan salah satunya karena adanya peristiwa Serangan Umum Satu Maret. “Jogja mendapat predikat itu karena SO1 Maret dan adanya sejarah Jogja Kembali itu” ungkapnya.
Herry Zudianto menambahkan, dalam mengenang nilai-nilai perjuangan bangsa seluruh aparat dan pemerintah hendaknya selalu mengedepankan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan. “Kita harus mengedepankan kata KITA, daripada AKU, sebagai bukti adanya persatuan” paparnya.
Jika terjadi kelunturan sejarah bangsa, tegas Herry, maka kesalahan terletak pada bangsa tersebut. Oleh karena itu, nilai sejarah perlu ditransformasikan kepada generasi penerus.(ton)
| < Prev | Next > |
|---|




